BANYUWANGI, Kupasinfo.com – Sirkuit BMX Muncar Banyuwangi kembali menjadi sorotan setelah terbukti menjadi pusat lahirnya atlet-atlet nasional berprestasi internasional. Dalam sebuah sesi diskusi usai gelaran BMX Supercross, para tokoh dan atlet berbagi cerita tentang kontribusi besar sirkuit tersebut terhadap perkembangan olahraga BMX di Indonesia.
Seorang perwakilan pelatih nasional menyampaikan bahwa sejak awal pembangunan sirkuit hingga sebelum dilakukan perombakan terbaru, Banyuwangi telah berhasil melahirkan atlet-atlet kelas dunia. “Pasca sirkuit dibuat ini, bahkan sebelum dibongkar, kami sudah menghasilkan tiga atlet nasional yang menorehkan prestasi internasional dari Banyuwangi,” ujarnya.
Ia memaparkan tiga nama besar yang pernah dibina di Banyuwangi:
Baca Juga :Pertama, Tony Sudin. Pada tahun 2015, Banyuwangi menjadi tuan rumah training camp nasional ketika sirkuit masih berstandar tradisional. Dari proses itu, Tony berhasil mencatat sejarah sebagai atlet BMX Indonesia pertama yang lolos ke Olimpiade Brasil 2016.
Kedua, Elga Kharisma Ibu, yang dikenal sebagai Ratu BMX ASEAN. Elga menjalani masa training camp cukup lama di Banyuwangi dan sukses meraih tiga medali emas SEA Games: tahun 2011 di Jakarta, 2017, dan 2019.
Ketiga, Shifa, peraih medali emas BMX Asian Games 2022 di China, menjadi pencapaian tertinggi BMX Indonesia di ajang tersebut. “Ini hadiah besar bagi Banyuwangi dan Indonesia,” ujarnya.
Ia menutup sambutannya dengan harapan agar sirkuit ini terus berkembang. “Semoga sirkuit ini bisa menghasilkan atlet-atlet Indonesia terbaik di masa depan.”
Dalam sesi tanya jawab, Bupati Banyuwangi kemudian meminta pandangan langsung dari tiga atlet berprestasi tersebut mengenai peran Sirkuit BMX Supercross Muncar terhadap karier mereka.
Tony Sudin menegaskan bahwa keberadaan trek berstandar internasional sangat penting bagi generasi baru.
“Dulu zaman saya belum ada trek seperti ini, jadi saat bertanding ke luar negeri itu kaget karena treknya besar-besar. Sekarang kita sudah punya. Ini peluang besar bagi atlet muda untuk berkembang lebih baik,” ungkapnya.
Elga Kharisma juga menyoroti pentingnya fasilitas ini sebagai sarana regenerasi atlet.
“Dulu kalau ingin mencoba trek Supercross, saya harus ke luar negeri. Bahkan saya sekolah di Swiss selama empat tahun untuk terbiasa dengan trek standar internasional. Tapi sejak sirkuit Banyuwangi hadir pada 2015, atlet-atlet kini tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri,” ujarnya.
Sementara itu Shifa, juara Asian Games, menilai trek Banyuwangi berperan besar dalam pembentukan mental dan teknik bertanding.
“Track ini sangat membantu untuk membiasakan diri menghadapi trek seperti yang ada di kompetisi internasional,” kata Shifa singkat.
Di tengah hujan yang mulai turun, yang disebut sebagai “berkah" para atlet menyampaikan harapan mereka bagi masa depan BMX di Banyuwangi.
Tony berharap frekuensi event diperbanyak.
“Supaya regenerasi tidak bosan hanya latihan. Tidak hanya di Banyuwangi, tapi di daerah lain juga perlu diperbanyak,” ujarnya.
Elga menekankan pentingnya event rutin agar atlet muda terbiasa dengan atmosfer kompetisi.
“Semakin sering ada event, semakin cepat generasi muda naik level ke kelas dunia.”
Shifa kembali memberikan jawaban singkat namun jelas.
“Harapan saya sama seperti Mbak Elga dan yang lainnya,” ujarnya sambil tersenyum.
Diskusi ditutup dengan apresiasi bagi seluruh atlet dan pihak yang terlibat. Banyuwangi semakin meneguhkan posisinya sebagai salah satu pusat pembinaan BMX terbaik di Indonesia, bahkan Asia.