Tak Ingin Sekadar Jadi Pelengkap, Penyandang Disabilitas Banyuwangi Sampaikan Aspirasi ke DPC PKB Banyuwangi

Tak Ingin Sekadar Jadi Pelengkap, Penyandang Disabilitas Banyuwangi Sampaikan Aspirasi ke DPC PKB Banyuwangi

$rows[judul]

Banyuwangi, Kupasinfo.com - Persoalan akses usaha hingga keterlibatan dalam perencanaan pembangunan menjadi sejumlah aspirasi yang mengemuka dalam Rembug Disabilitas yang digelar DPC PKB Banyuwangi bersama Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Banyuwangi.

Forum tersebut berlangsung di Kafe Urup-urup, Minggu (27/9/2026). Pertemuan dikemas secara informal sehingga para peserta dapat menyampaikan pengalaman maupun persoalan yang mereka hadapi secara langsung.

Sejumlah penyandang disabilitas memanfaatkan forum tersebut untuk menyampaikan berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan ekonomi. Salah satu yang mendapat perhatian adalah persoalan validasi data penyandang disabilitas di Kabupaten Banyuwangi.

Baca Juga :

Data yang akurat dinilai menjadi salah satu hal penting dalam menentukan sasaran program. Dengan data yang tervalidasi, berbagai kebijakan dan program yang berkaitan dengan penyandang disabilitas diharapkan dapat disusun berdasarkan kondisi serta kebutuhan yang ada di lapangan.

Ketua DPC PKB Banyuwangi, Zaki Al Mubarok, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mendengarkan aspirasi kelompok penyandang disabilitas secara langsung. Ia menyampaikan, kelompok disabilitas perlu memiliki ruang untuk terlibat dalam pembangunan daerah.

Sementara itu, Ketua PPDI Banyuwangi, Teguh, mengungkapkan masih terdapat harapan agar penyandang disabilitas dapat dilibatkan lebih jauh dalam proses pembangunan. Menurutnya, keterlibatan tersebut tidak hanya dalam kegiatan seremonial, tetapi juga sejak proses perencanaan hingga penentuan sasaran pembangunan, khususnya program nonfisik.

Persoalan lain yang mencuat berkaitan dengan kemandirian ekonomi. Sejumlah peserta mengaku masih menemui hambatan ketika hendak mengembangkan usaha, mulai dari keterbatasan peralatan, tempat usaha hingga akses terhadap permodalan.

Katimin, salah seorang penyandang disabilitas yang menekuni usaha sol sepatu, turut menyampaikan kondisi yang dialaminya. Ia mengaku masih kesulitan memenuhi kebutuhan tempat usaha, peralatan kerja dan modal untuk mengembangkan usaha yang dijalankannya.

Beragam masukan tersebut menjadi bagian dari pembahasan dalam rembug. Aspirasi yang disampaikan peserta mencerminkan sejumlah kebutuhan yang diharapkan dapat menjadi perhatian dalam penyusunan program pembangunan dan pemberdayaan penyandang disabilitas di Banyuwangi.