Gus Salam Siapkan Wajah Baru PBNU, Dorong Rekonsiliasi dan Kepemimpinan Merata hingga Luar Jawa

Gus Salam Siapkan Wajah Baru PBNU, Dorong Rekonsiliasi dan Kepemimpinan Merata hingga Luar Jawa

$rows[judul]

JOMBANG, Kupasinfo.com - Dinamika menuju Muktamar Nahdlatul Ulama kembali menghangat. Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, menyatakan kesiapannya maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masa Khidmat 2026-2031.

Gus Salam membawa gagasan yang ia sebut sebagai “Rekonsiliasi Total”. Gagasan tersebut diarahkan untuk memulihkan soliditas internal NU sekaligus mengakhiri berbagai ketegangan struktural yang muncul dalam dinamika Muktamar ke-35 NU.

Menurut Gus Salam, pembenahan organisasi tidak cukup hanya dilakukan melalui pergantian kepemimpinan. Ia menilai diperlukan upaya untuk mengembalikan suasana kebersamaan, menjaga marwah ulama, serta memastikan seluruh elemen NU memiliki ruang yang proporsional dalam menjalankan khidmah.

Baca Juga :

“Saya diberi amanah-misi untuk mengembalikan marwah NU-Ulama serta melakukan rekonsiliasi total dalam khidmah berjam’iyyah NU dan ber-NKRI,” ujar Gus Salam dalam keterangan tertulis, Sabtu (29/8/2026).


Selain rekonsiliasi, Gus Salam juga menawarkan perubahan dalam komposisi kepengurusan PBNU. Salah satu perhatian utamanya adalah mengurangi kesenjangan representasi antara pengurus NU di Jawa dan wilayah luar Jawa.

Ia menggagas posisi Sekretaris Jenderal PBNU berasal dari luar Jawa. Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi bentuk afirmasi sekaligus memperkuat pendampingan terhadap PWNU dan PCNU yang berada di berbagai daerah di luar Pulau Jawa.

Tak berhenti di tingkat nasional, Gus Salam juga ingin memberikan ruang lebih besar kepada kader NU yang berada di luar negeri. Ia mengusulkan adanya Wakil Ketua Umum atau Ketua Bidang Luar Negeri yang berasal dari kalangan diaspora NU.

Gagasan itu diharapkan mampu memperluas jaringan Nahdlatul Ulama di tingkat internasional sekaligus mengoptimalkan peran kader NU yang selama ini berada di berbagai negara.

Di sisi lain, Gus Salam menyampaikan bahwa hubungan PBNU dengan pemerintah maupun partai politik tetap perlu dijaga. Namun, hubungan tersebut menurutnya harus ditempatkan dalam koridor organisasi yang independen.

PBNU, kata dia, harus dapat bekerja sama dengan pemerintah dan berkomunikasi dengan seluruh kekuatan politik untuk kepentingan masyarakat. Pada saat yang sama, NU tetap harus berpegang pada Khittah Nahdlatul Ulama sebagai pijakan perjuangan organisasi.

Dengan gagasan tersebut, pencalonan Gus Salam tidak hanya diarahkan pada kontestasi kepemimpinan PBNU, tetapi juga menawarkan agenda konsolidasi, pemerataan representasi dan penguatan kembali posisi NU sebagai organisasi keumatan yang menaungi berbagai kelompok serta wilayah.

Perjalanan menuju penetapan Ketua Umum PBNU Masa Khidmat 2026-2031 selanjutnya akan menjadi ruang bagi para calon untuk menawarkan gagasan dan mendapatkan dukungan dari struktur serta warga Nahdlatul Ulama.